BERITA POLRI INVESTIGASI I Menurut Drs. Ch. Robin Simanullang, Supranalar (atau Superreason, Suprarational) adalah sebuah konsep filosofis dan teologis yang menawarkan cara pandang baru dalam memahami kebenaran yang melampaui batas-batas logika materialistik.
Berikut adalah poin-poin utama pemahaman mengenai Supranalar, menurut yang banyak tertuang dalam karyanya seperti “Supranalar: Melampaui Batas Langit Logika, Sebuah Gagasan Diksi” dan “Supranalar: Karakteristik dalam Alkitab”:
1. Pengertian Dasar Supranalar
Supranalar didefinisikan sebagai sebuah tingkatan berpikir trans-rasional yang lahir ketika akal budi manusia telah bekerja secara maksimal hingga membentur batas mutlaknya, lalu melompat dengan anggun untuk melampaui logika linear tanpa harus memusuhi akal sehat. Dalam ruang ini, ketajaman mata batin menangkap uluran tangan kilatan ilham Ilahi.
2. Perbedaan dengan Supranatural atau Irasional
Ch. Robin Simanullang menegaskan perbedaan mendasar antara supranalar dengan konsep yang sering disalahartikan. Berbeda dengan istilah supranatural atau klenik yang bergerak mundur ke bawah standar nalar sehat (sub-rasional), supranalar berdiri tegak di atas nalar untuk memberikan ruang yang terhormat bagi misteri, intuisi, mata batin, dan iman yang matang.
3. Latar Belakang Gagasan
Konsep ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap penyusutan makna kebenaran di abad modern akibat dominasi positivisme logis. Manusia modern kerap terjebak dalam tirani rasionalisme yang mengerdilkan segala fenomena di luar jangkauan sains menjadi sekadar mistis, takhayul, atau klenik. Supranalar hadir sebagai resolusi linguistik atas defisit istilah filsafat kontemporer saat berhadapan dengan fenomena transendental.
4. Tiga Dimensi Berpikir
Dalam taksonomi yang disusunnya, kesadaran manusia dipetakan ke dalam tiga dimensi:
* Irasional: Berada di bawah nalar atau cacat logika.
* Rasional: Sejajar dengan nalar atau logika duniawi yang bersifat horizontal-empiris.
* Supranalar: Berada di atas nalar, merupakan logika transendental vertikal yang menjadi kelanjutan radikal dari logika yang jujur.
5. Arsitektur Segitiga Kesadaran Supranalar
Supranalar tidak menolak akal, melainkan mengintegrasikannya dalam tiga poros yang saling melengkapi dan tidak boleh dipisahkan:
* Poros Nalar/Logika: Ranah horizontal-praktis yang menyediakan struktur, tata bahasa, data empiris, dan alat artikulasi (sebagai “tubuh” gagasan).
* Poros Mata Batin: Ranah supranalar internal yang menyuntikkan estetika, empati tinggi, dan kedalaman rasa (sebagai “jiwa” gagasan).
* Poros Roh Ilahi: Ranah supranalar vertikal yang memberikan tiupan roh (Theopneustos), arah kompas penunjuk jalan, dan jaminan kebenaran hakiki (sebagai “napas kehidupan”).
6. Tujuan Akhir: Manusia Marbisuk
Gagasan ini bertujuan untuk melahirkan manusia marbisuk (pribadi bijak) yang mampu mengasah rasionya dengan tajam, namun memiliki kerendahan hati intelektual untuk melompat melampaui logika fisik demi meraih spiritualitas yang tercerahkan. Prinsip utamanya diringkas dalam sintesis: “Melangitkan Logika, Membumikan Iman”, artinya mendaki ke atas dengan ketajaman rasio untuk menjemput (sebagai antena penerima) anugerah cahaya kebenaran Ilahi, lalu membawa (membumikan) cahaya tersebut turun ke bawah guna menyinari, menyembuhkan, dan membangun kebudayaan manusia di bumi.
Konsep ini juga sering dikaitkan dengan upaya integrasi antara kearifan kosmologi lokal (seperti kosmologi Batak mengenai Debata Mulajadi Nabolon) dengan kebenaran teologis universal, menegaskan bahwa iman yang sejati adalah puncak dari rasionalitas yang tuntas.
Jakarta, 31 Oktober 2026
The Batak Institute
dan
Pustaka Tokoh Indonesia
Reporter Sastra S




